Catatan perjalanan ayah & bunda |
Web blog ini berisi catatan harian Ayah & Bunda. Momen-momen bahagia, sedih, haru, rindu, semua kami siapkan untuk bekal belajar dan mewarnai cerita kehidupanmu kelak, anakku. Selamat menyelami sekelumit cerita ini. Ambil yang baik, eksplor lagi dari sekelilingmu, dan tetaplah jadi anak yang cerdas, kritis & bermanfaat. Doa Ayah & Bunda selalu menyertai nadimu. |
Yup, kali ini Ayah & Bunda pergi mengunjungi dua kota yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Rotterdam. Mungkin hanya sekitar 30 - 45 menit naik kereta. Honeymoon ke-2? Iya, nak…ini perjalanan honeymoon ke-2 kami setelah berkunjung ke Maastricht & ke salah satu kolega Bunda di Aachen, Jerman beberapa bulan yang lalu.
Alhamdulillah perjalanan kali ini cukup menyenangkan dan (tentu saja) disertai berbagai “kejutan-kejutan”. Sewaktu kami memasuki entrance Museum Volkenkunde (salah satu museum di Leiden yang menyimpan artefak kuno dari berbagai kontinen, Asia, Timur Tengah, Afrika, dll), Ayah langsung mengeluarkan kartu ATM dan menyapa “Good morning. Two tickets, please”. Secara otomatis mbak penjaga tiket kemudian bertanya “Do you have the discount card?”. Bunda langsung spontan menjawab “No, we only have train discount card” yang langsung direply dengan tawa terbahak-bahak oleh si mbak penjaga tiket (Bundamu itu memang polos ya, dek. That’s why I love her so much). “Are you students? I mean do you study here in Leiden?” si mbak penjaga tiket melanjutkan. “No we’re not. We are students but we’re from Rotterdam”. Dan setelah itu, keajaiban datang. Si mbak penjaga tiket berkata “Okay, what I would like to do now is very naughty. I’ll just issue two tickets for you for Utrecht students”. Dan masuklah kami berdua GRATIS menjelajahi museum tersebut…hehehe…hemat 16 Euro (karena harga tiket untuk umum seharusnya @ 8 Euro). Oiya one more thing, sayang. Ayah & Bunda menamai Adek dengan nama “Ganesha” terinspirasi dari salah satu koleksi museum ini. Adalah Ganesha, anak dari Dewa Siwa, salah satu dewa dalam mitologi Hindu, yang dipuja dan dikenal sebagai simbolisasi kebijaksanaan (wisdom) dan ilmu pengetahuan (knowledge). That’s why we named you with “Ganesha”.
Selepas dari Museum Volkenkunde, setelah berfoto berdua (seperti yang Adek lihat di kamar Ayah & Bunda), kami jalan berkeliling sambil mencari tempat yang enak untuk sarapan (atau brunch lebih tepatnya). Menyenangkan sekali kotanya, hangat dan tertata rapi. Kanal yang bersih juga menjadi salah satu daya tarik Leiden (tidak seperti kanal-kanal di Amsterdam atau Utrecht yang menurut kami tidak terlalu bersih). Mungkin karena Utrecht termasuk salah satu dari empat kota penting di Belanda (Amsterdam, Den Haag, Utrecht, dan Rotterdam adalah konstelasi kota-kota dengan fungsi spesifik yang tergabung dalam Ranstad Region red.)
Cerita ini Ayah tutup dengan makan malam di sebuah kafe bernama Cubanita di Utrecht. Kasihan Bunda, dek…kakinya sudah lelah karena berjalan seharian. It was your mom who grabbed my hand and took us to this cafe. Suasananya hangat, di-design mirip layaknya mini cafe atau bar di Cuba (memang Ayah pernah kesana??? hehehe). Waktu itu Bunda memesan, entah apa namanya, tapi yang jelas jamur, paprika, dan bawang goreng dipotong-potong dan ditusuk seperti sate. Enak, ditemani pula dengan kopi Kuba (as usual, coffee is your mom’s second husband…ting ting…). Sementara Ayah makan ikan fillet.
Sudah dulu ya sayang, we still have works to do. Smoga kita bisa visit ke kota-kota ini lagi nanti. Kali ini tidak hanya Ayah & Bunda yang bergandengan tangan, tetapi kita berempat.
Love you,
Ayah & Bunda