Catatan perjalanan ayah & bunda |
Web blog ini berisi catatan harian Ayah & Bunda. Momen-momen bahagia, sedih, haru, rindu, semua kami siapkan untuk bekal belajar dan mewarnai cerita kehidupanmu kelak, anakku. Selamat menyelami sekelumit cerita ini. Ambil yang baik, eksplor lagi dari sekelilingmu, dan tetaplah jadi anak yang cerdas, kritis & bermanfaat. Doa Ayah & Bunda selalu menyertai nadimu. |
Dedek sayang,
Terlintas ide di benak Ayah barusan ingin membuat small project dengan Bunda. Project tulisan aja, ga usah berat2. Karena Bunda dan Ayah ber-background berbeda, dan sudah pasti, dalam satu atau beberapa hal kita juga berbeda pemikiran, makanya Ayah ingin sekali menulis dengan Bunda. Tema yang ingin Ayah angkat adalah fenomena “gated community”. Dedek tahu apa itu? Kalau Ayah baca sekilas di literatur, gated community ini merupakan bentuk lingkungan perkotaan modern yang mengadopsi bentuk2 perkotaan kuno.
Kalau Dedek lihat sejarah, seluruh istana kerajaan di seluruh penjuru dunia pasti dikelilingi oleh tembok tebal dan tinggi. Tembok ini (saat itu) berfungsi sebagai penghalang jika terjadi peperangan atau jika ada musuh dari kerajaan lain ingin masuk ke wilayah kerajaan tersebut.
Nah, konsep ini, sekarang diadopsi di lingkungan perumahan modern. Ayah ingin sekali menelitinya. Karena fenomena ini ternyata tidak berhenti pada bentuk rumah (segi arsitektural) saja. Tapi kalau Dedek jalan2, hampir pasti traffic flow yang dihasilkan, berawal dari menjamurnya fenomena gated community di seluruh kota2 satelit di pinggir Jakarta. Alhasil, ketika peak hour, kota Jakarta dibanjiri dengan banyaknya kendaraan pribadi yg berasal dari lingkungan2 perumahan ini.
Sebenarnya hal ini lumrah, terjadi di hampir sebagian besar kota2 di negara berkembang. Tapi yang membuat menjadi tidak lumrah adalah jika penataan traffic flow yang keluar dari gated communities pinggiran kota menyalahi penataan traffic management kota secara keseluruhan. Padahal desain jalan kolektor (jalan yang “mengantar” kendaraan dari lingkungan perumahan ke jalan arteri) hampir pasti tidak didesain sesuai kapasitas rencananya (mengingat pesatnya pertumbuhan perumahan di pinggiran Jakarta).
Hehehe…terlalu detail ya Dek? Maaf ya. Ayah berharap, kamu bisa mengasah sense utk melihat segala persoalan kelak. Mungkin apa yg Ayah dan Bunda alami sekarang would totally be different when you are grown up later. Tapi setidaknya, dengan Ayah bercerita ini, Dedek bisa menangkap betapa kondisi kota yang Ayah & Bunda tinggali saat ini benar2 kronis…macet dan banjir dimana2.
Bilang Bunda, ditunggu Ayah responnya ya. Kalau bisa ditemani nasgor plus sayuran ala Bunda nikmat banget sambil menulis…hehehe… Miss you all…
-Ayah-